Anugerah Patah Hati & Kegelisahan

Daftar Isi [Tampilkan]
Patah hati adalah metafora umum yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai, melalui kematian, perceraian, putus hubungan, terpisah secara fisik ataupun penolakan cinta.
Harus kita pahami bersama, ternyata frase cinta itu tidak hanya digunakan dalam hubungan asmara antara pria dan wanita saja, cinta itu merupakan sebuah metafora yang sangat luas dan dalam maknanya, seperti seluas cinta seorang ibu kepada anaknya, pun juga sebaliknya. Juga seperti cinta seorang pelukis kepada kanvas, kuas, cat airnya.

Namun, apabila cinta yang awalnya sangatlah luar biasa indahnya itu, melenggang menjadi sebuah emosi negatif seperti patah hati dan kegelisahan, lalu, dimana sisi anugerahnya?

Bibit Utama

Apabila terjadi sebuah penolakan rasa yang nyata diantara kedua belah pihak, maka dipastikan akan terjadi sekelumit bias kasih sayang yang tentunya sangat tidak diinginkan, yang bisa saja akan menciptakan sebuah rasa kecewa yang mendalam diantara salah satunya, dan ketahuilah teman, bahwasanya hal itu merupakan bibit utama dari sebuah pohon rindang nan kokoh yang bernama sakit hati. Juga ketidaktahuan bagaimana cara menghadapi keadaan seperti itu, merupakan air jernih dan pupuk kelas wahid yang mana menjadikan pohon ini tumbuh semakin subur didalam diri manusia. Iya, tidak salah baca, pupuk kelas wahid.


Beda cerita denga patah hati, yaitu perasaan gelisah, emosi negatif yang satu ini lebih condong memprovokasi perasaan khawatir dalam diri, dan akan semakin merasa diatas angin jikalau mengetahui bahwa sang pemilik perasaan gelisah ini dirasa tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk merubah dan mengendalikan keadaan yang dikhawatirkannya menjadi keadaan yang ahwalnya baik baik saja untuk dirinya. Sehingga perasaan dia akan ditentukan oleh kemungkinan kemungkinan yang sifatnya tidak pasti. Jika sudah seperti itu, maka silahkan ucapan selamat datang untuk menyambut perasaan gelisah yang sebentar lagi akan hinggap dihati.

Realita Ini dan Itu

Penilaiaan Orang Lain

Budi selalu merasa sedih dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini disekolahnya, semenjak mengalami sebuah peristiwa kecelakaan ketika libur musim panas sekolah, hingga dia harus menjalani perawatan karna ternyata luka yang dialaminya cukup parah, tangan kirinya terlindas ban mobil dan banyak saraf-saraf yang mengalami kerusakan, hingga akhirnya mau tidak mau budi harus merelakan tangannya untuk diamputasi agar lukanya tidak menjalar ke bagian tubuh lainnya dan keadaannya menjadi lebih parah.
Saat masuk sekolah, banyak sekali teman temannya yang berubah sikap kepadanya, ada sebagian yang merasa iba dan kasihan dengan musibah yang dialami oleh Budi, namun tidak sedikit juga yang menjauhi Budi dan merasa tidak cocok lagi berteman dengan orang yang bisa dibilang fisiknya tidak sempurna lagi. Pandangan sinis dan pembicaraan buruk kepadanya, membuat sebuah kegelisahan tersendiri didalam diri Budi.
Sebuah kegelisahan, kekecewaan dan sakit hati yang tentunya tidak bisa dipungkiri hinggap dihati Budi, emosi negatif dan perasaan penuh keputus-asaan tidak bisa dibendung lagi, selalu mengalir membasahi perasaan budi setiap hari, bahkan tidak jarang, perasaan itu juga mengalir keluar dari matanya jatuh menuju pipinya.
Wajar, sangat sangat wajar apabila perasaan kecewa yang sangat mendalam itu dialami oleh Budi, duduk permasalahannya sangatlah sederhana dan mendasar, yaitu sebuah penolakan yang dilakukan oleh ‘teman-temannya’ merupakan awal mula dari kekecewaan dan emosi negatif yang dirasakan oleh Budi.
Saya kira, emosi negatif Budi adalah sebuah hal yang sangat wajar dirasakan oleh siapapun jika berada diposisinya, dan saya akan mengatakan anda sakit jiwa jika anda dalam keadaan seperti yang dialami budi, emosi yang muncul dalam diri anda bukanlah sebuah kekecewaan, melainkan malah kebahagiaan yang mendalam. Mustahil.

Kemudian, Apa yang Salah?

Penderitaan adalah Anugrah

Sakit hati dan gelisah itu sebuah hal wajar, tapi menginterpretasikannya dalam kehidupan nyata dengan cara yang salah merupakan sebuah kebodohan.
contemplation-e1527695168731.jpg
Ada sebuah konsep penting yang harus kita pahami sebelumnya jika ingin mengetahui tentang apa makna sebenarnya atau apa tujuan hakiki dari penisbatan kata anugrah yang jelas-jelas berlandaskan emosi positif kepada emosi yang jelas-jelas negatif beserta antek-anteknya yang juga tidak kalah menjengkelkannya.
Konsep itu adalah, bahwasanya emosi jiwa kita adalah sebuah fitrah yang tidak bisa kita tolak ada dalam diri kita, entah itu emosi positif seperti kegembiraan dan kebahagiaan, atau emosi negatif seperti kesedihan, kegelisahan dan patah hati. Sebuah hal yang sangat bertentangan dengan fitrah manusia, apabila manusia didzolimi kemudian dia merasa bahagia dan gembira. Mungkin saja dia sakit jiwa.
Nah, setelah kita bisa menerima konsep itu, maka yang harus kita perhatikan adalah bagaimana cara menginterpretasikan emosi tersebuat kepada sebuah perbuatan yang baik untuk diri sendiri, baik untuk orang lain, dan baik dimata nilai-nilai sosial yang berlaku.
Bukan malah mencoba lari dari emosi negatif tersebut agar merasakan suasana dan emosi yang lebih tenang dan lebih baik, apalagi berusaha untuk menghilangkan dan menghnacurkan perasaan tersebut dalam diri, agar tidak lagi merasakannya dan bergulat dengannya setiap hari. Bukankah itu sama saja kita lari dan berbuat jahat kepada diri kita sendiri?
Sebenarnya yang membuat orang itu dicap sebagai pribadi yang negatif bukanlah rasa amarah yang bersarang dalam dirinya, orang itu dikatakan berkepribadian negatif jika dia salah menginterpretasikan kemarahan dan emosi negatif yang dia miliki. Orang itu memilih untuk meluapkan kemarahannya dengan cara-cara yang tidak baik untuk dirinya, tidak baik untuk orang lain, juga tidak baik dimata nilai-nilai sosial, seperti meninju wajah pacarmu yang tiba tiba menikah dengan orang lain contohnya.
Contoh lainnya adalah kesedihan seorang pemuda yang ditinggal mati oleh ayam kesayangannya, rasa sedih yang mendalam pemuda itu bukanlah sebuah aib yang harus ditutup-tutupi dan berusaha untuk lari darinya atau malah menghancurkannya, itu adalah sebuah fitrah, ketika pemuda tersebut menginterpretasikan rasa kesedihan itu dengan cara mengumpat kehendak tuhan, mengatakan tuhan itu tidak adil dan omong kosong lainnya, maka itulah sebenarnya kesalahan yang dia lakukan, bukan emosi negatif yang ada dalam dirinya.

Keadaan itu Tidak Bisa Kita Rubah

Hanry Manampiring mengatakan dalam bukunya Filosofi Teras tentang sebuah konsep yang cukup menarik dan sangat bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari untuk menghilangkan perasaan kecewa dan sedih dalam diri.
Nama konsep itu adalah Dikotomi Kendali
Dikotomi Kendali
Ini adalah sebuah konsep yang mana akan membagi ruang gerak dan kendali manusia menjadi dua bagian, sebuah ruang yang memang bisa dikendalikan, juga ruang yang memang benar benar manusia tidak punya kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya.
  • Bisa Dikendalikan
    • Pertimbangan (Judgement)
    • Opini & Persepsi
    • Keinginan
    • Tujuan
    • Segala sesuatu yang merupakan pkiran dan tindakan kita sendiri
  • Tidak Bisa Dikendalikan
    • Opini orang lain
    • Kekayaan
    • Kesehatan
    • Kondisi saat kita lahir
    • Segala sesuatu diluar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca, gempa bumi dan keadaan alam lainnya
Selagi emosi negatif yang ada dalam diri disebabkan oleh hal-hal yang bisa kita kendalikan, maka tanggung jawab kita adalah meregulasi atau mengatur diri kita agar emosi itu tidak hadir kembali dalam diri.
Contohnya, ketika kita merasa kecewa karna nilai ujian kita jelek, disebabkan oleh kita yang sering bermalas-malasan dalam belajar dan tidak pernah mengerjakan tugas. Emosi negatif tersebut datang karena kesalahan kita sendiri, dan kita wajib untuk merubah itu semua, karna tindakan diri sendiri merupakan hal yang bisa kita kendalikan. Mulailah menyusun rencana belajar, berusaha mengerjakan seluruh tugas dan belajar lebih giat, maka itu bisa membuat nilai yang kamu dapatkan menjadi lebih baik, ingat, jangan mengumpat dirimu sendiri, karna itu tidak akan membuat nilaimu menjadi lebih besar dari sebelumnya.
Nah jika ternyata emosi negatif itu datang dari hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan, seperti orang lain yang menghinamu karna nilaimu kecil, maka betapa bodohnya jika kamu marah-marah kepadanya, apalagi sampai mengumpat balik orang tersebut, karena apa yang keluar dari mulutnya tidak bisa kamu atur, dan membalas umpatannya dengan umpatanmu, juga bukan merupakan cara agar nilaimu menjadi lebih baik dimasa yang akan datang. Tetap tenang, jangan dengarkan, lanjutkan belajarmu.
Setelah memahami pembagian dikotomi kendali diatas, seharusnya kita bisa lebih memilah dan memilih kejadian apa yang seharusnya membuat kita benar benar sedih dan kejadian apa yang seharusnya kita tidak sedih olehnya.

Emosi Negatif Adalah Awal dari Perubahan Besar

Manusia itu pada dasarnya adalah sebuah makhluk yang sangat istimewa, kenapa bisa dikatakan istimewa? karena manusia mempunyai kemampuan untuk bisa merasakan sebuah perasaan yang bernama sakit hati dan kecewa, kedua hal ini adalah contoh dari emosi negatif yang ada dalam diri manusia, juga kemampuan akal yang secara tidak langsung akan mencoba untuk menjauh dari perasaan tersebut, dikarenakan memang pada prinsipnya, otak itu menyukai apa yang namanya kenikmatan dan menjauh dari hal hal negatif yang kita rasakan. Maksudnya bagaimana? Silahkan baca artikel saya sebelumnya yang berjudul ‘Afirmasi Positif Bukanlah Solusi’ untuk lebih mengerti cara kerja akal kita yang menyukai kenikmatan dan menjauhi hal hal negatif yang dia rasakan.
Nah, setelah kita mengetahui akal kita mempunyai prinsip seperti itu, maka kita sebagai manusia tentunya, tidak ingin menjadi orang yang selalu dalam keadaan sakit hati dan gelisah toh? Dan secara alamiah, jika ingin meninggalkan perasaan tersebut, maka kita harus melakukan sebuah perubahan dalam diri kita yang mana menjadikan kesalahan-kesalahan yang sudah kita lakukan kemarin, juga hal-hal membuat diri kita menjadi sakit hati dan gelisah itu tidak terulang lagi dikarenakan sebuah alasan yang sama, dan tentunya harapan kita adalah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Sakit hati dan kegelisahanmu ternyata bukan sesuatu yang menyebalkan bukan?

Apa yang Sebaiknya Saya Lakukan?

Menerima dan Berdamai Dengan Hati

Setelah membaca sekian banyak penjelasan diatas, maka sudah tidak ada alasan lagi untuk kita merasa tidak nyaman dengan keadaan sakit hati dan kegelisahan yang kita alami saat ini, karna memang ternyata hal itu merupakan sebuah keistimewaan yang manusia miliki, berdamai dengan hati merupakan sebuah anugrah yang diberikan Tuhan kepada manusia, dan emosi negatif yang kita miliki ini bisa menjadi bahan bakar utama kita agar bisa membenahi kesalahan-kesalahan yang membuat kita sakit hati dan kecewa dan tidak terjadi untuk yang kedua kalinya.

Post a Comment

0 Comments