Tes

Daftar Isi [Tampilkan]

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Belajar

I
mam Zarnuji dalam kitab Ta’lim Mutaalim menyebutkan tentang beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu, agar sempurnanya proses menuntut ilmu dan membuat malakah keilmuan seseorang menjadi kuat nan kokoh adanya.

Terdapat beberapa aspek yang beliau bahas dalam kitab tersebut, mulai dari betapa pentingnya mudzakarah wal munadzarah (diskusi), attaamul bi-l-awqat (memperhatikan waktu), dawamu-s-syukr (selalu bersyukur), tikraru-d-dars (mengulang pelajaran) dsb.

Diskusi dan Saling Bertukar Pandangan

و لا بد من طالب العلم المذاكرة و المناظرة و المطارحة

Disarankan untuk seorang thalibul ilmi, agar melakukan diskusi, dan saling bertukar pandangan terhadap keilmuan yang dia sedang pelajari.[1] Dan hal tersebut harus dilakukan secara inshaf (jujur), taani (santai), dan juga taamul (teliti) serta menjauhi diskusi yang dilakukan secara syaghab atau rusuh dan tidak beraturan.

Tujuan utama dilakukannya diskusi adalah untuk mendapatkan sebuah kebenaran dan solusi dari sebuah permasalahan, dan hal tersebut tidak akan didapatkan jika diskusi dilakukan secara serampangan, apalagi dengan memaksakan kehendak, maka hal itu tidaklah baik untuk dirinya.
Bahkan ada beberapa ulama yang mengatakan:

مطارحة ساعة خير من تكرارشهر

“Melakukan diskusi selama satu jam, lebih baik ketimbang mengulang (apa yang sudah dipelajari) selama satu bulan -pen”

Hal tersebut dikarenakan, dengan berdiskusi kita bisa menemukan pemecahan dan solusi dari sebuah isykal (permasalahan) yang kita temui dalam belajar. Akan tetapi perlu diingat, diskusi harus dilakukan dengan orang-orang yang salimu-t-thab’i (baik kepribadiannya juga ilmunya).

Waktu dan Kesempatan yang Tidak Kembali

Kemudian beliau juga mengatakan tentang pentingnya seorang thalibul ilmu dalam memperhatikan waktu di kehidupan mereka. Jangan sampai waktu yang Allah berikan dalam satu hari, ada yang digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan digunakan untuk bermaksiat, hal tersebut merupakan musibah dan bencana bagi seorang thalibul ilmi.

Juga tentang pentingnya kita memanfaatkan setiap keadaan dan kesempatan. Seperti apa yang Rasulullah Saw. sabdakan dalam sebuah hadits:

الحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها أخذها

“Kalimat hikmah adalah barang seorang mukmin yang hilang, maka dimana saja ia menemukannya ia lebih berhak untuk mengambilnya.”(HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)[2]

Dan beberapa ulama juga mengatakan:

خد ما صفا و دع ما كدُر

“Ambil baiknya, tinggalkan buruknya -pen”

Maka, kebaikan bisa kita dapat dari siapa saja, tidak selalu dari orang yang alim, bahkan tidak menutup kemungkinan kita bisa mendapatkan ilmu dari seorang anak kecil, asalkan hal tersebut sesuai dengan koridor dan batasan-batasan dalam syariat islam.

Tidak Hanya Lisan yang Bersyukur

Seorang thalibul ilmi harus selalu menyibukkan dirinya dengan bersyukur kepada Allah Swt. dan menginterpretasikannya dengan lisan, jiwa, panca indra, seluruh organ tubuh, dan juga hartanya.

Dan selalu berkeyakinan, bahwasanya datangnya pemahaman dan ilmu ialah dari Allah Swt., juga terus berdoa kepadaNya agar selalu diberikan petunjuk dan kemudahan dalam memahami dan mendalami ilmu tersebut. Jangan sampai kita merasa, bahwasanya ilmu yang kita miliki berasal dari kekuatan akal kita dan buku-buku yang kita baca.

و أهل الضلالة أعجبو برأيهم و عقلهم و طلبوا الحق من المخلوق العاجز فهو العقل

“Orang-orang yang sesat merasa takjub dengan pemikiran dan akal mereka, dan mereka meminta kebenaran(pemahaman) kepada sebuah makhluk (yang bernama) akal. -pen”[3]

Ketika kita merasa bahwa ilmu yang kita miliki sekarang ini dikarenakan akal kita yang cerdas, dan buku-buku yang kita baca, maka hal tersebut merupakan perasaan yang dimiliki oleh ahlu-d-dholalah (orang-orang sesat).

Bagaimana mungkin sebuah kemuliaan (ilmu dan pemahaman) tersebut didapatkannya dengan cara meminta kepada sebuah makhluk yang bernama akal? padahal ada kekuatan yang jauh lebih besar, yaitu Sang Pencipta Akal itu sendiri?

Sangat nonsense jika dikatakan akal mengetahui segalanya, ia tidak bisa mengetahui apa yang bashirah (mata hati) ketahui, jika semua hal bergantung kepada akal, maka sudah bisa dipastikan orang tersebut akan tersesat dan menyesatkan.

Mengulang Kembali, Kembali Mengulang

Mengulang pelajaran adalah aspek fundamental yang harus diprioritaskan oleh seorang thalibul ilmi, karena ilmu yang kita pelajari, jika tidak pernah kita murajaah atau tikrar (mengulai pelajaran) maka bisa jadi tidak utuh lagi, bahkan hilang dan tidak tersisa sama sekali.

Maka sangat disayangkan jika sampai hal tersebut menimpa seorang thalibul ilmi, selain ilmu dan kebermanfaatannya yang hilang, waktu-waktunya yang telah terlewat pun akan menjadi terbuang sia-sia, musibah ini akan terjadi dengan tidak dilakukannya murajaah atau tikrar pelajaran yang lalu.

Seperti hanya untuk belajar sesuatu yang seolah-olah akan dilupakan begitu saja dimasa yang akan datang. Wal iyyadzu billah.

Imam Zarnuji menjelaskan sebuah metode mengulang pelajaran yang cukup baik dan menarik. Sebuah metode yang bisa dibilang, mengedepankan aspek dalam penjagaan ilmu ketimbang menambah ilmu.

Dalam satu hari, Imam Zarnuji menganjurkan seorang thalibul ilmi untuk melakukan tikrar pelajaran kemarin sebanyak lima kali, kemudian pelajaran dua hari yang lalu sebanyak empat kali, pelajaran tiga hari yang lalu sebanyak tiga kali, pelajaran empat hari yang lalu sebanyak dua kali dan pelajaran lima hari yang lalu sebanyak satu kali, setelah semua tikrar selesai, barulah memulai pelajaran yang baru, dan metode ini dilakukan secara konsisten.

Dan disarankan untuk seorang thalibul ilmi agar menghindari masa fatrah (jeda) dalam belajar, karena hal tersebut adalah afah (penyakit) untuk mereka.

Semoga dengan memperhatikan hal-hal penting diatas, kita bisa menjadi thalibul ilmi yang benar benar memiliki malakah ilmu yang kuat dan bisa memberikan manfaat kepada diri kita dan orang lain, dan tentunya juga li i’lai kalimatillah wa li iqamati syari’atillah. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


[1] Syeikh Ibrahim bin Ismail, Syarh Ta'lim Muta'alim, Hal.79, Daru-l-Bashair, Cairo, 1433 H
[2] Diriwayatkan Turmudzi dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah dengan jalur Ibrahim Ibn Al-Fadlal
[3] Syeikh Ibrahim bin Ismail, Syarh Ta'lim Muta'alim, Hal.86, Daru-l-Bashair, Cairo, 1433 H

Post a Comment

0 Comments